Tampilkan postingan dengan label laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

LAPORAN #7 INSTALASI AUDIO MOBIL

OLEH
RETNO ADE SANJAYA
1203051


PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

A.    Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu:


1. Mengenal dan mengetahui prinsip kerja beberapa perangkat audio yang digunakan
    pada sound system pada mobil.
2. Memahami dan mampu menginstalasi peralatan audio audio mobil dengan benar.
3. Mengatasi troubleshooting pada perangkat audio mobil.
B.     Alat dan Bahan
1.  Headunit car audio player
2.  Loudspeaker oval fullrange
3.  Speaker subwoofer 2 coil
4.  Adaptor 12 volt (min 5 ampere)
5.  loudspeaker
6.  Kabel listrik
C.    Teori Singkat

            Rangkaian penguat audio pada kendaraan bermotor (mobil) pada prinsipnya sama dengan peralatan audo HiFi home teater. Audio player home teater berupa CD/VCD/DVD/Blueray player ataupun mp3 player baik yang portable maupun dari smartphone/komputer yang berfungsi sebagai alat produksi musik/audio. Pada peralatan audio mobil, peralatan audio player disebut dengan Head Unit yaitu bagian yang memproduksi audio/musik. Pada head unit terdapat CD/VCD/DVD/Blueray player, mp3 player dan adio penerima yang menjadi satu kesatuan. Pada peralatan Head Unit juga terdapat peralatan filter/equalzer, power amplifier 2 channel maupun 4 channel.
 


BAT    : Car Battery
HU      : Head Unit
PA       : Power Amplifier
TL       : Tweeter Kiri
TR       : Tweeter Kanan
FL       : Main Speaker Kiri Depan
FR       : Main Speaker Kanan Depan
RL       : Speaker Kiri Belakang
RR       : Speaker Kanan Belakang
SW      : Sub Woofer


D.    Langkah Kerja1. Lengkapilah peralatan dan bahan praktikum yang akan digunakan, periksa terlebih
    dahulu peralatan dan pastikan peralatan bekerja dalam keadaan baik dan bekerja.
2. Gunakan head unit yang tesedia dan catat serta analisis prinsip kerja srta fungsi
    fungsi player yang tersedia pada head unit dan jelaskan bagian utama pada tabel 1.
3. Gunakan loudspeaker sesuai dengan jenis dan karakteristik, pasang pada peralatan
    head unit yang tersedia.
4. Bunyikan dan dengarkan suara yang dihasilkan.
5. Atur pengaturan volume, nada, bass, dan trable sehingga menghasilkan bunyi yang
    enak didengar.
6. Catat jika terdapat fungsi dan bagian lebih spesifik yang terdapat pada peralatan
    head unit dan isiskan kedalam tabel 2.

E.     Gambar Kerja
F.     Tabel Pengamatan
Tabel 1
No.
Nama Bagian
Fungsi
1.
Mode
Untuk merubah input yang akan digunakan mode Aux in atau Mic.
2.
Mute
Meredamkan nada yang sedang diputar atau masuk pada mode bisu.
3.
Volume Putar
Mengecilkan atau membesarkan volume atau suara keluaran.
4.
Power
Untuk menghidupkan atau mematikan Head Unit.
5.
Tombol Next
Untuk melompat pada nada selanjutnya..
6.
Tombol Prev
Untuk melompat pada nada sebelumnya.
7.
Stop
Untuk menghentikan nada yang sedang diputar.
8.
CD/DVD drive
Tempat memasukkan CD/DVD
9.
Port USB
Untuk memasukkan input melalui USB
10.
Port SD Card
Untuk memasukkan input melalui SD Card
11.
Tombol open
Untuk memasukkan atau mengeluarkan CD/DVD
12.
Tombol Search
Untuk mencari nada yang ingin diputar atau diinputkan.
Tabel 2
No.
Nama Bagian
Fungsi
1.
Bass
Pengaturan nada rendah.
2.
Treble
Pengaturan nada tinggi.
3.
Balance
Penguatan pada speaker.
4.
Fadder
Untuk memilih speaker yang ingin dikuatkan (R/L).
5.
Loudspeaker
Untuk melakukan penguatan pada speker dengan mode loud.
6.
DSP
Untuk melakukan pengaturan suara yang terlah diatur oleh pabrikan yang telah distandarisasi.


G.    Kesimpulan   
              Faktor terpenting untuk menghasilkan suara yang bagus pada sistem Audio Mobil adalah dalam pengaturan pada head unit yang digunakan seperti pengaturan pada tingkat bass, treble, dan Balance. Seting Audio mobil pada Amplifier.sebaiknya diatur LPF dan HPF. fungsinya untuk mengatur frequency nada tinggi dan nada rendah pada Audio mobil.
Read more

Sabtu, 19 April 2014

LAPORAN #6 INSTALASI AUDIO HIFI

LAPORAN 6

PRAKTEK AUDIO DAN RADIO

TENTANG INSTALASI AUDIO HIFI
OLEH ; RETNO ADE SANJAYA
(1203051)

A.   Tujuan
Setelah praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu:
1.      Menginstalasi perangkat audio HiFi
2.      Mengetahui Fungsi peralatan audio HiFi
3.      Mengetahui troubleshooting dasar peralatan audio HiFi
B.   Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah:
1.      Amplifier                     1 set
2.      Mixer audio                 1 set
3.      Audio player               1 set
4.      Loudspeaker               2 buah
5.      Kabel                           secukupnya
C.   Teori pendukung
Sistem tata suara merupakan sekumpulan peralatan dalam  pengaturan suara atau bunyi untuk menghasilkan kualitas bunyian yang baik pada acara pertunjukan, pertemuan, rekaman, dan lain lain. Tata suara erat kaitannya dengan pengaturan penguatan suara agar bias terdengan keras tanpa mengabaikan kualitas suara suara yang dikuatkan. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon – mikropon, kabel-kabel, prosesor dan efek suara, serta pegaturan konsul mixer, juga audio power amplifier dan speaker- speakernya secaea keseluruhan.
Pada instalasi tata suara paling sederhana dilihatkan pada gambar 1, dimana bagian input berfungsi menerima signal masukan dari mikropon, pemutar music dan peralatan pengthasil bunyi lainnya.
 
Gambar 1. Blok rangkaian audio amplifier
Mikropon berfingsi merubah getaran suara menjadi signal listrik dan mengirimnya melalui kabel menuju mixer audio. Mixer menerima signal suara dan music melalui setiap kanalnya kemudian dilakukan proses mixing dan balancing. Proses ini dilakukan untuk mencampur dan menyeimbangkan suara yang diterima yang kemudian dikirimkan lagi melalui kabel ke rangkaian power amplifier.
Dalam sistem sederhana, power amplifier kadang terdapat dalam satu kemasan dengan mixer yang disebut power mixer, atau juga power amplifier yang tercakup dalam kotak speaker yang lebih kita kenal dengan speaker aktif. Namun betapapun besar dan rumitnya sebuah sistem, tetap akan berada pada prinsip diatas tadi seperti yang terlihat pada gambar 1.
Dalam sistem yang lebih besar akan terdapat beberapa peralatan tambahan yang tentu saja akan terdapat banyak pengaturan. Pada gambar 2, terlihat sistem yang lebih kompleks. Ini adalah yang biasa diiterapkan bagi kafe, pub, bar, atau club yang menampilkan music live dan ber-area tidak terlalu luas.
D.   Langkah Kerja Praktikum
1.      Pasang dan rakitlah peralatan audio seperti pada gambar 2 dan sesuaikan dengan peralatan yang tersedia.
2.      Masukkan input mixerdengan peralatan penghasil bunyi seperti microphone, ipon, mp3 player, computer, CD dan lainnya.
3.      Atur pengaturan, Bass dan trable pada posisi tengah dan atur besaran volume seperlunya (sesuaikan dengan kuat bunyi).
4.      Lepaskan loadspeaker hubungkan, pasang AFG pada bagian input mixer serta hubungkan ke channel 1 osiloskop dan output dari power amplifier pada channel 2 osiliskop.
5.      Atur input AFG pada posisi 1 KHz dengan amplitudo sebesar 50 mVp-p, berapa tegangan output yang dihasilkan 50 mVp-p, dan tentukan juga beda fase f= 1800. (gambarkan bentuk signal)
6.      Atur pengaturan penguatan input dengan membesar dan mengecilkan gain, volume perchanel, volume master dan volume dari power amplifier hingga menghasilkan sinyal output yang dapat terbaca dan tidak cacat 12,6 Vp-p. Berapa besar penguatan dari rangkaian keseluruhan yang anda gunakan.....dB (hitung dalam satuan decibel).
7.    Aturlah pengaturan berbagai kondisi dari peralatan mixer, dan dengarkan serta amati setiap perubahan bunyi dari setiap perubahan pengaturan dari mixer.
E.   Hasil Praktikum
Sinyal output tidak cacat pada tegangan 47 Vp-p. Maka penguatannya :
Vin= 50 mVp-p
Av = 20 Log Vo/Vin
Av= 20 Log 47 V/50 Mv
Av= 59.46 dB
F.    Evaluasi
Peralatan audio pada sound professional :
a.       Transducer input
Banyak jenis masukan transduser dapat ditemukan dalam sistem penguatan suara , dengan mikrofon menjadi perangkat input yang paling umum digunakan . Mereka dapat diklasifikasikan menurut metode mereka transduksi , pickup ( atau polar ) pola atau aplikasi fungsional mereka . Kebanyakan mikrofon yang digunakan dalam penguatan suara yang baik mikrofon dinamis atau kondensor.
b.      Mixing console
Mixing console adalah jantung dari sistem penguatan suara . Ini adalah dimana operator dapat mencampur , menyamakan dan menambahkan efek suara sumber . Beberapa konsol dapat digunakan untuk aplikasi yang berbeda dalam sistem penguatan suara tunggal .
c.       Equalizer
Equalizers ada dalam sistem penguatan suara dalam dua bentuk : grafis dan parametrik . A high-pass ( low- cut ) dan / atau low-pass ( high- cut ) filter juga dapat dimasukkan . Equalizers parametrik sering dibangun ke setiap saluran dalam pencampuran konsol dan juga tersedia sebagai unit terpisah . Equalizers parametrik pertama kali menjadi populer pada 1970-an dan tetap equalizer program pilihan bagi banyak insinyur sejak saat itu .
Equalizers grafis memiliki fader ( kontrol geser ) yang bersama-sama menyerupai kurva respon frekuensi diplot pada grafik . Sistem penguatan suara biasanya menggunakan equalizers grafis dengan pusat frekuensi oktaf . Ini biasanya digunakan untuk menyamakan sinyal keluaran akan sistem loudspeaker utama atau monitor di atas panggung .
d.      Efek
Gema dan delay efek yang banyak digunakan dalam sistem penguatan suara untuk meningkatkan campuran relatif terhadap dampak artistik yang diinginkan dari materi program . Efek modulasi seperti flanger , phaser , dan paduan suara juga diterapkan pada beberapa instrumen . Sebuah exciter " livens " suara sinyal audio dengan menerapkan pemerataan dinamis , manipulasi dan sintesis fase harmonik dari sinyal frekuensi biasanya tinggi .
e.       Power amplifier
Daya amplifier meningkatkan sinyal tingkat tegangan rendah dan menyediakan tenaga listrik untuk menggerakkan pengeras suara. Semua pembicara membutuhkan amplifikasi kekuatan sinyal tingkat rendah oleh amplifier , termasuk headphone . Kebanyakan amplifier audio profesional juga memberikan perlindungan dari sinyal overdrive , sirkuit pendek di output, dan suhu berlebih.
G.  Kesimpulan
Sistem tata suara merupakan sekumpulan peralatan dalam pengaturan suara atau bunyi untuk menghasilkan kualitas bunyian yang baik pada suatu acara pertunjukan, pertemuan, rekaman, dan lain-lain.
Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon-mikropon, prosesor dan efek suara, serta pengaturan konsul remix, juga audio power amplifier dan speaker-speakernya secara keseluruhan.
Read more

Sabtu, 12 April 2014

LAPORAN #5 PRAKTEK AUDIO DAN RADIO

LAPORAN 5

PRAKTEK AUDIO DAN RADIO

TENTANG TONE CONTROL


OLEH

RETNO ADE SANJAYA

1203051



PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKAFAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS NEGERI PADANG









A.   Tujuan:

Setelah praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu:

1.      Merakit rangkaian Tone Control (Pengatur Nada).

2.      Mengetahui fungsi rangkaian Tone Control pada sistem audio

3.      Mengetahui karakteristik kerja rangkaian Tone Control pada sistem audio

4.      Melihat respon frekuensi dan penguatan yang dapat dilakukan oleh rangkaian Tone Control.



B.   Alat dan Bahan:

Alat dan bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah:

1.      Osiloskop Dual Beam                                     = 1 set

2.      Multimeter                                                      = 1 set

3.      AFG                                                                = 1 set

4.      Kit Power Amplifier + Tone ControL            = 1 set

5.      Loudspeaker                                                   = 1 buah

6.      Kabel listrik                                                     = secukupnya

7.      Audio Player                                                   = 1 set



C.   Teori Pendukung

Rangkaian penguat audio yang baik yaitu rangkaian yang mampu memperkuatkan sinyal pada range frekuensi audio yaitu frekuensi 20 Hz sampai 20 KHz dan pada saat melakukan penguatan tanpa terjadinya cacat dengan nois yang sekecil mungkin. Range frekuensi ini juga tergantung dari kemampuan dari loudspeaker. Jika loudspeaker bekerja pada frekuensi Full Range (20 Hz – 20 Khz) ini sangat baik sekali, karena akan di dapat nada yang dinamis pada frekuensi full range. Tapi jika hanya frekuensi tertentu saja yang mampu di reproduksi oleh loudspeaker, maka penggunaan tone control memungkinkan untuk membatasi frekuensi tertentu.

Tone control merupakan rangkaian pengatur nada yang terdiri dari rangkaian filter, yaitu Low Pass Filter (LPF) dan Figh Pass Filter (HPF) maupun Band Pass Filter. Sebelum sinyal dikuatkan oleh rangkaian Power Aplifier, rangkaian tone control bekerja dengan mengatur nada yang akan dilewatkan pada rangkaian power amplifier, sehingga akan di dapatkan nada sesuai dengan respon frekuensi pada loudspeaker dan akan di dapatkan hasil (suara) pada loudspeaker yang sesuai dengan keinginan pengguna.



                     



Gambar 1. Blok Rangkaian Audio Amplifier`





D.   Langkah Kerja Praktikum

1.      Lengkapilah peralatan dan bahan praktikum yang akan digunakan, periksa terlebih dahulu peralatan dan pastikan komponen dalam keadaan baik dan bekerja.

2.      Rakitlah rangkaian Power Amplifier dan Tone Control, sesuaikan dengan skema rangkaian seperti pada gambar di bawah, kemudian berikan tegangan dan hidupkan rangkaian sehingga output power amplifier menghasilkan bunyi saat input disentuh dengan tangan.









Gambar 2. Skema Power Amplifier dengan Tone Control



3.      Atur pengaturan nada volume, Bass dan trable pada posisi tengah.

4.      Hubungkan AFG pada bagian input rangkaian amplifier serta hubungkan ke chanel 1 osiloskop dan output pada chanel 2 pada osiloskop.

5.      Atur input AFG pada posisi 1 KHz dengan amplitudo sebesar 50 mVp-p, berapa tegangan output yang dihasilkan ? Vo  = 10,4 Vp-p, dan tentukan juga beda fase f = ....... o






(Gambar bentuk signal)



6.      Atur volume hingga menghasilkan sinyal output yang dapat terbaca dan tidak cacat 10,4  Vp-p. Berapa besar penguatan dari rangkaian yang anda gunakan?



dB = 20 Log Vo/Vi

dB = 20 Log 10,4 / 0,16

dB = 20 Log 1,813

dB = 36,26



7.      Ulangi langkah 6, aturlah posisi tone control dan ukur tegangan output (Volume dan Amplitudo AFG tidak dirubah). Isilah tabel pengamatan berikut ini.



E.   TABEL PENGAMATAN



1.      Kondisi Potensio Tone Control, Bass = Minimum, High = Minimum



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
0,5 V
CACAT
250 Hz
1,1 V
TIDAK CACAT
500 Hz
2,9 V
TIDAK CACAT
750 Hz
3,6 V
TIDAK CACAT
 1000 Hz
3,8 V
TIDAK CACAT
1500 Hz
3,6 V
TIDAK CACAT
2000 Hz
3,4 V
TIDAK CACAT
5000 Hz
1,8 V
TIDAK CACAT
10000 Hz
0,9 V
TIDAK CACAT
15000 Hz
0,48 V
TIDAK CACAT
20000 Hz
0,28 V
TIDAK CACAT

2.      Kondisi Potensio Tone control, Bass = Min, High = Tengah



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
0,4 V
CACAT
250 Hz
1,5 V
TIDAK CACAT
500 Hz
3,2 V
TIDAK CACAT
750 Hz
4,4 V
TIDAK CACAT
1000 Hz
5,2 V
TIDAK CACAT
1500 Hz
6,8 V
TIDAK CACAT
2000 Hz
7,2 V
TIDAK CACAT
5000 Hz
7,6 V
TIDAK CACAT
10000 Hz
7,2 V
TIDAK CACAT
15000 Hz
6 V
TIDAK CACAT
20000 Hz
5,2 V
TIDAK CACAT



3.      Kondisi potensio Tone Control, Bass = Tengah, High = Min



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
3,4 V
CACAT
250 Hz
4 V
TIDAK CACAT
500 Hz
4,4 V
TIDAK CACAT
750 Hz
4,6 V
TIDAK CACAT
1000 Hz
4,7 V
TIDAK CACAT
1500 Hz
4,3 V
TIDAK CACAT
2000 Hz
3,9 V
TIDAK CACAT
5000 Hz
3,1 V
TIDAK CACAT
10000 Hz
2,9 V
TIDAK CACAT
15000 Hz
1,7 V
TIDAK CACAT
20000 Hz
1,5 V
TIDAK CACAT



4.      Kondisi potensio Tone Control, Bass = Tengah, High = tengah



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
5,8  V
CACAT
250 Hz
6,6  V
TIDAK CACAT
500 Hz
7,4 V
TIDAK CACAT
750 Hz
9,2 V
TIDAK CACAT
1000 Hz
11,2 V
CACAT
1500 Hz
11,2 V
CACAT
2000 Hz
11,2 V
CACAT
5000 Hz
11,2 V
CACAT
10000 Hz
11,2 V
CACAT
15000 Hz
7,2  V
TIDAK CACAT
20000 Hz
6 V
TIDAK CACAT



5.      Kondisi Potensio Tone Control, Bass = Min, High = Max



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
0,76 V
CACAT
250 Hz
3  V
TIDAK CACAT
500 Hz
7,6  V
TIDAK CACAT
750 Hz
12  V
CACAT
1000 Hz
11 V
CACAT
1500 Hz
11 V
CACAT
2000 Hz
11,5 V
CACAT
5000 Hz
11,5 V
CACAT
10000 Hz
11,5 V
CACAT
15000 Hz
11,5 V
CACAT
20000 Hz
11,5 V
CACAT



6.      Kondisi Potensio Tone Control, Bass = Max, High = Min



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
12 V
CACAT
250 Hz
12 V
CACAT
500 Hz
12 V
CACAT
750 Hz
12 V
CACAT
1000 Hz
12 V
CACAT
1500 Hz
12 V
CACAT
2000 Hz
8,8 V
TIDAK CACAT
5000 Hz
3,6 V
TIDAK CACAT
10000 Hz
1,75 V
TIDAK CACAT
15000 Hz
1 V
TIDAK CACAT
20000 Hz
0,6 V
TIDAK CACAT



7.      Kondisi Potensio Tone Control, Bass=Tengah, High=Max



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
6,8 V
TIDAK CACAT
250 Hz
7,6 V
TIDAK CACAT
500 Hz
8,8 V
TIDAK CACAT
750 Hz
11 V
TIDAK CACAT
1000 Hz
11 V
 CACAT
1500 Hz
11,5 V
CACAT
2000 Hz
11,5 V
CACAT
5000 Hz
11,5 V
CACAT
10000 Hz
11,5 V
CACAT
15000 Hz
11,5 V
CACAT
20000 Hz
11,5 V
CACAT



8.      Kondisi Potensio Tone Control, Bass = Max, High= Tengah



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
13 V
CACAT
250 Hz
11,5 V
CACAT
500 Hz
11,5 V
CACAT
750 Hz
11,5 V
CACAT
1000 Hz
11,5 V
CACAT
1500 Hz
11,5 V
CACAT
2000 Hz
11,5 V
CACAT
5000 Hz
11,5 V
CACAT
10000 Hz
11,5 V
 CACAT
15000 Hz
11 V
TIDAK CACAT
20000 Hz
9 V
TIDAK CACAT



9.      Kondisi Potensio Tone Control, Bass = Max, High = Max



Frekuensi Input
(Vo = 100 mVp-p)
Besar Tegangan output/Vo
(Signal Pada Speaker)
Keterangan
100 Hz
13  V
CACAT
250 Hz
11,5 V
CACAT
500 Hz
11,5 V
CACAT
750 Hz
11,5 V
CACAT
1000 Hz
11,5 V
CACAT
1500 Hz
11,5 V
CACAT
2000 Hz
11,5 V
CACAT
5000 Hz
11,5 V
CACAT
10000 Hz
11,5 V
CACAT
15000 Hz
11,5 V
CACAT
20000 Hz
11,5 V
CACAT






F.    KESIMPULAN



Rangkaian Tone Control merupakan salah satu jenis pengatur suara atau nada aktif pada sistem audio. Pada dasarnya tone control atau pengatur nada berfungsi untuk mengatur penguatan level nada bass dan level nada treble. Nada bass adalah sinyal audio pada frekuensi rendah sedangkan nada treble merupakan sinyal audio pada frekuensi tinggi.



Rangkaian Tone Control sederhana memiliki output yang bisa di bilang cukup bagus dan bersih. Sinyal suara yang di hasilkan dari input sebelumnya sudah di atur oleh potensiometer dan kemudian di kuatkan oleh bagian op = amp menggunakan transistor yang kemudian di kopling oleh kapasitor yang outputnya akan di atur lagi pada bagian control.



Tone Control yang memiliki 4 transistor terbagi dalam 3 bagian utama yaitu bagian penguat depan, bagian pengatur nada (tone control) dan bagian penguat akhir. Pada bagian depan dapat di bangun menggunakan 2 transistor yang di susun dalam penguat 2 tingkat. Kemudian bagian pengatur nada di bangun menggunakan sistem pengatur nada baxandal yang dapat mengontrol nada rendah atau nada tinggi. Kemudian bagian akhir di gunakan penguat 2 tingkat yang di bangun menggunakan transistor.



Rangkaian tone control baxandal merupakan rangkaian penguat dengan jaringan umpan balik (feedback) dan rangkaian filter aktif. Rangkaian baxandal hanya tergantung dari pengaturan potensiometer bass. Batas pengaturan maksimum potensiometer bass merupakan maksimum boost (penguatan maksimal bass) dan batas pengaturan minimum potensiometer bass merupakan maksimum cut (pelemahan maksimum).



Pada saat frekuensi nada bass meningkat, maka akan memberikan efek pada resistor samapai kapasitor sehingga tidak lagi memberikan efek atau respon pada rangkaian. Sehingga frekuensi di atas tidak di pengaruhi oleh posisi potensiometer bass pada maksimum boos dan cut atau di biarkan flat. Untuk nada treble, pada akhir frekuensi tinggi audio kapasitor bertindak seakan short circuit. Maka penguatan akan di atur oleh potensiometer treble.
Read more